Rangkuman PAI

BAB 1
Menterjemahkan Ayat Q.S. al-Maidah/5: 48 
"Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan." (Q.S. al-Maidah/5: 48) 
Asbabun Nuzul Q.S. al-Maidah/5: 48 Tidak ada sebab khusus yang melatarbelakangi turunnya Q.S. al-Maidah/5: 48. Surat al-Maidah termasuk golongan surat Madaniyah, yakni surat yang turun setelah hijrahnya Nabi. Menurut riwayat Imam Ahmad, surat ini turun saat Nabi Saw. sedang menunggang unta. Bagian paha unta tersebut hampir saja patah karena sangat beratnya wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw.
yang diturunkan oleh Allah Swt. kepada kaum muslimin sudah sempurna, dan Allah Swt. telah meridai Islam sebagai jalan kehidupan semua manusia. Maka tidak ada lagi alasan untuk meninggalkan sebagian ajarannya untuk berpindah pada ajaran lain. 5. Tiap-tiap umat memiliki aturan (syariat) yang akan menuntunnya menuju. kebahagiaan abadi. Allah Swt. juga mengkaruniakan jalan terang (manhaj) yang dilalui oleh manusia dalam menjalankan aturan beragama. 6. Allah Swt. telah menjadikan syariat Nabi Muhammad Saw. sebagai penyempurna syariat para nabi terdahulu serta membatalkan syariat sebelumnya. Seandainya Allah Swt. menghendaki, niscaya umat Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s., dan umat Nabi Muhammad Saw. akan dijadikan satu umat saja. Tetapi hal ini tidak dikehendaki oleh Allah Swt. 7. Umat Islam diperintahkan untuk berlomba-lomba dengan sungguh- sungguh dalam berbuat kebaikan dan menghindari perdebatan yang tidak perlu hingga menghabiskan waktu sia-sia. Allah Swt. telah menetapkan berbagai macam syariat untuk menguji siapakah di antara hamba-Nya yang taat dan durhaka. Bagi yang taat akan memperoleh pahala, sedangkan siksa bagi seseorang yang durhaka. Sesungguhnya semua manusia akan kembali kepada Allah Swt. dan akan diberitahukan apa yang telah diperselisihkan. Hal yang diperselisihkan ini adalah tentang kehidupan akhirat. Orang-orang kafir tidak percaya adanya akhirat. Karenanya mereka akan diberitahu dan mendapatkan balasan atas perbuatan mereka, yakni dimasukkan ke dalam api neraka. Sedangkan bagi orang mukmin yang beramal shalih, akan mendapatkan balasan surga. "Umat Islam diperintahkan untuk berlomba-lomba dengan sungguh sungguh dalam berbuat kebaikan dan menghindari perdebatan yang tidak perlu hingga menghabiskan waktu sia-sia". Perintah untuk berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) juga terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur'an, di antaranya terdapat dalam Q.S. al-Baqarah/2: 148 berikut ini: وَلِكُلِّ وَجْهَةٌ هُوَ مُوَلَّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: "Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (Q.S. al-Baqarah/2: 148) Ayat tersebut secara tegas memerintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Kebaikan yang dilakukan oleh seorang mukmin akan mendapatkan balasan dari Allah Swt. Berlomba dalam kebaikan merupakan suatu ajakan kepada orang lain dengan dimulai dari diri sendiri untuk selalu menempuh jalan yang diridai oleh Allah Swt. Mengapa seorang mukmin harus bersegera dalam berlomba-lomba dalam kebaikan?. Karena kesempatan waktu hidup di dunia hanya sementara dan terbatas oleh ruang dan waktu. Tidak ada yang tahu kapan seseorang akan dipanggil menghadap Allah Swt. Di samping itu, tidak ada yang tahu perubahan yang akan dialami oleh seseorang. Bisa jadi malam ia beriman, esoknya sudah tidak memiliki iman. Atau malam ia masih salat berjamaah di masjid, pagi terjerumus dalam kemaksiatan. Oleh karena itu, Islam menganjurkan umatnya untuk bersegera dalam berbuat kebaikan. Hal ini sesuai dengan hadis berikut ini: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ : بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَسَتَكُونُ فِتَن كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا . (رواه مسلم) Artinya: "Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda: "bersegeralah kamu sekalian untuk melakukan amal-amal shalih, karena akan terjadi suatu bencana yang menyerupai malam yang gelap gulita di mana ada seseorang yang pada waktu pagi ia beriman, tetapi pada waktu sore ia kafir, pada waktu sore ia beriman tetapi pada waktu pagi ia kafir, ia rela menukar agamanya (dengan sedikit keuntungan dunia)". (H.R. Muslim)

Menerapkan Perilaku Kompetisi dalam Kebaikan untuk meraih Kesuksesan Kalian pasti ingin mengamalkan pesan mulia yang terkandung dalam Q.S. al-Maidah/5: 48. Agar dapat berkompetisi dalam kebaikan, lakukanlah "M6" berikut ini, yaitu: 1. Mengawali dengan basmalah 2. Melakukan dengan penuh semangat 
3. Menjaga konsistensi 
4. Mempelajari ilmu yang terkait 5. Membiasakan bekerja sama 6. Mengamati, meniru, dan memodifikasi Untuk memahami "M6" di atas, perhatikan penjelasannya berikut ini. 
1) Mengawali suatu amal kebaikan dengan membaca basmalah dan berdoa kepada Allah Swt. agar diberikan kemudahan, kelancaran, dan keberkahan. Doa merupakan kekuatan spiritual yang akan mendorong kalian untuk berusaha maksimal hingga amal tersebut paripurna. Di samping itu ada nilai pahala atas amal yang dilakukan dengan ikhlas. 
2) Melakukan semua amal kebaikan dengan penuh optimis dan semangat... Sikap optimis dan semangat ini akan membuat seseorang menjadi yakin mampu mengerjakan amal kebaikan dengan tuntas. Lebih dari itu, tumbuh rasa senang dan bahagia karena telah berhasil menyelesaikan sebuah amal kebaikan.
 3) Menjaga konsistensi (istiqamah) amal kebaikan yang sudah kalian lakukan. Kualitas dari amal kebaikan akan semakin meningkat apabila kalian lakukan dengan konsisten. Tiap hari akan ada pengalaman baru untuk perbaikan kualitas amal pada hari berikutnya dan masa datang. 
4) Mempelajari ilmu yang terkait dengan peningkatan kualitas amal kebaikan. Antara ilmu dan amal merupakan satu kesatuan. Ilmu tanpa amal, ibarat pohon tak berbuah. Demikian pula beramal tanpa ilmu akan mengakibatkan amal tersebut tertolak. Menambah bekal ilmu dapat kalian lakukan dengan belajar di lembaga pendidikan formal maupun non formal. 
5) Membiasakan diri beramal secara bersama-sama dengan melibatkan orang banyak. Dalam hal ini, bukan berarti mengabaikan amaliyah yang sifatnya pribadi. Keterlibatan banyak orang dalam suatu amal kebaikan akan membuat nilai amal tersebut semakin baik. Karena akan semakin
banyak manfaat dan kemaslahatan yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Lebih dari itu, akan memperkuat tali silaturahmi dan memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.
 6) Mengamati, meniru, dan memodifikasi amal kebaikan yang telah dilad oleh orang lain. Hal ini akan memudahkan dan memotivasi seseorang dalam beramal saleh. Karena sudah dicontohkan oleh orang lain, maka harus ada usaha untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas amal tersebut agar lebih baik dan nilai manfaatnya menjadi lebih besar. Setelah kalian melakukan "M6" di atas, tentu banyak manfaat yang diperoleh dari perilaku kompetisi dalam kebaikan. Di antara manfaat tersebut adalah sebagai berikut: = 
1) Memperoleh rida dan pahala dari Allah Swt. Allah Swt. akan memberikan pahala kepada kalian jika melakukan pekerjaan dengan ikhlas. Kesuksesan tertinggi bukanlah sukses duniawi, tetapi kesuksesan tertinggi adalah rida dari Allah Swt. 
2) Menjadi manusia yang bermanfaat Manusia terbaik adalah manusia yang mampu menebar manfaat dan kemaslahatan sebesar-besarnya kepada masyarakat. Nilai sebuah kebaikan akan berlipat ganda jika mampu memberikan manfaat yang besar untuk masyarakat luas.
 3) Mempercepat penyelesaian pekerjaan Keinginan untuk menyelesaikan pekerjaan ini didasari oleh motivasi untuk menyelesaikan pekerjaan lainnya. Jika menunda suatu pekerjaan, maka pekerjaan yang lain ikut terbengkalai. Di samping itu, ada kompetitor yang memicu peningkatan kinerja. Termotivasi untuk menjadi lebih baik 
4) Saat kalian berkompetisi dengan pihak lain, akan tumbuh keinginan untuk menjadi yang paling unggul. Tentunya hal ini membutuhkan persiapan yang matang. Meskipun hasil akhirnya belum tentu sebagai pemenang, tetapi sudah berhasil menunjukkan kemampuan terbaik yang dimiliki merupakan prestasi tersendiri yang patut diapresiasi. 
5) Menjadi pribadi yang disiplin dan bertanggungjawab Keinginan untuk menjadi yang terbaik harus diikuti dengan sikap disiplin dan tanggungjawab. Keduanya merupakan modal utama meraih kesuksesan dalam sebuah kompetisi.

Asbabun Nuzul Q.S. at-Taubah/9: 105 Tidak ada sebab khusus yang melatarbelakangi turunnya Q.S. at-Taubah/9: 105 ini. 
Perlu diketahui bahwa ayat 105 terkait dengan ayat sebelum yakni ayat 102-104. Pada ayat 102-104, Allah Swt. menganjurkan bertau dan melakukan kegiatan nyata, antara lain membayar zakat dan bersedekah. Pada ayat 105, Allah Swt. memerintahkan untuk melakukan beragam aktivitas lain, baik yang nyata maupun tersembunyi. Menurut kitab Lubabun Nuqul fii Asbaabin Nuzul Seusai berperang, Rasulullah Saw. bertanya: "siapakah orang-orang yang terikat di tiang ini?", ada seseorang menjawab: "mereka adalah Abu Lubabah dan teman-temannya yang tidak ikut berperang. Mereka bersumpah tidak akan melepaskan ikatan tersebut, kecuali Rasulullah sendiri yang melepaskannya". Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: "aku tidak akan melepaskan mereka kecuali jika diperintahkan oleh Allah Swt." Karenanya Allah Swt. menurunkan Q.S. at-Taubah/9: 102, kemudian Rasulullah Saw. melepaskan dan memaafkan mereka. f. Menelaah Tafsir Q.S. at-Taubah/9: 105- Menurut tafsir al-Misbah, ayat ini mendorong manusia untuk lebih mawas diri dan mengawasi amal atau pekerjaan mereka. Allah Swt. mengingatkan mereka bahwa setiap amal baik atau buruk memiliki hakikat yang tidak dapat disembunyikan. Amal tersebut akan disaksikan oleh Allah Swt., Rasulullah Saw. dan orang-orang beriman. Pada hari kiamat, Allah Swt. akan membuka tabir penutup yang menutupi mata mereka sehingga mengetahui dan melihat secara langsung hakikat amal mereka sendiri. Selanjutnya simaklah pesan-pesan mulia yang terkandung dalam Q.S at- Taubah/9: 105 berikut ini. 
1. Allah Swt. memerintahkan untuk beramal saleh hingga manfaatnya bisa dirasakan oleh diri sendiri maupun masyarakat luas. Amal tersebut harus dilakukan dengan ikhlas karena mengharap rida dari Allah Swt. 2. Setiap amal akan dilihat oleh Allah Swt., Rasulullah Saw. dan mukminin di akhirat kelak. Lalu akan dibalas sesuai amal tersebut, jika amalnya baik maka mendapat pahala, sebaliknya jika amalnya buruk maka akan dibalas dengan siksa. Karenanya seorang muslim haruslah memperbanyak amal saleh ketika hidup di dunia.
 3. Janganlah merasa amalnya sudah cukup banyak untuk bekal hidup di akhirat. Sifat ini akan menghambat munculnya keinginan untuk beramal saleh lagi. Tumbuhkan inisatif untuk melakukan amal saleh sehingga oranglain ikut tergerak untuk melakukannya. Pahala berlipat akan diberikan oleh Allah Swt. kepada orang yang memberi contoh tanpa mengurangi pahala mereka yang mencontoh. 
4. Setiap manusia akan kembali ke kampung akhirat, dan menerima bal L amal perbuatannya. Seorang mukmin hendaklah jangan larut dengan gemerlap kehidupan duniawi hingga melalaikan akhirat yang kekal abadi. 'Kerja' dalam bahasa Arab disebut dengan 'amala - ya'malu dan yang seakar dengan kata tersebut. Di dalam Al-Qur'an, kata-kata yang berarti 'bekerja' diulang sebanyak 412 kali dan seringkali dihubungkan dengan pekerjaan yang saleh atau amal saleh. Amal saleh yaitu pekerjaan yang membawa kebaikan, baik bagi pelakunya maupun orang lain. Kebaikan tersebut dapat berupa perbaikan ekonomi, kesejahteraan, kesehatan, pendidikan, sosial, spiritual dan sebagainya. Kebaikan tersebut meliputi kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Penyebutan kata 'bekerja' yang sedemikian banyak di dalam Al- Qur'an menunjukkan bahwa masalah 'kerja' sangatlah penting bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk bekerja keras atau memiliki etos kerja tinggi. Rasulullah Saw. bersabda dalam sebuah hadis berikut: عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ أَحْبُلَهُ ثُمَّ يَأْتِي الْجَبَلَ فَيَأْتِي بِحُزْمَةٍ مِنْ حَطَبٍ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيْعَهَا فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْمَنَعُوْهُ . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ) Artinya: "Dari Abu Abdullah az-Zubair bin al-Awwam r.a., berkata, Rasulullah Saw. bersabda: "Sungguh sekiranya salah seorang di antara kamu sekalian mengambil beberapa utas tali kemudian pergi ke gunung dan kembali dengan memikul seikat kayu bakar dan menjualnya di mana dengan hasil itu Allah mencukupkan kebutuhan hidupnya, maka itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada sesama manusia baik mereka memberi ataupun tidak memberinya". (H.R. Bukhari) Hadis di atas secara tegas menyatakan bahwa bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari lebih dicintai Allah dan rasul-Nya dibanding berpangku tangan menunggu bantuan orang lain. Allah Swt. telah memberikan wewenang kepada manusia untuk mengolah sumber daya alam di bumi. Perhatikan Q.S. al-Jumu'ah/62:10 berikut ini.

BAB 2

Definisi Iman Pada dasarnya, setiap manusia dilahirkan dengan memiliki fitrah tentang keyakinan adanya zat yang Maha Kuasa. Keyakinan ini dalam istilah agama disebut dengan iman. Dalam hal ini manusia telah menyatakan keimanannya kepada Allah Swt. sejak masih berada di alam ruh. Sebagaimana yang tersebut QS. al-A'raf/7: 172 berikut ini: وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ لا قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَفِلِينَ - Artinya: Dan (ingatlah) Ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah Swt mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman) "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi" (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat tidak mengatakan, "sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini" Iman berasal dari bahasa Arab dari kata dasar amana - yu'minu - imanan, yang berarti beriman atau percaya. Adapun definisi iman menurut bahasa berarti kepercayaan, keyakinan, ketetapan atau keteguhan hati. Imam Syafi'i dalam sebuah kitab yang berjudul al-'Umm mengatakan, sesungguhnya yang disebut dengan iman adalah suatu ucapan, suatu perbuatan dan suatu niat, di mana tidak sempurna salah satunya jika tidak bersamaan dengan yang lain.

Pilar-pilar keimanan tersebut terdiri dari enam perkara yang dikenal dengan rukun iman yang wajib dimiliki oleh setiap muslim. Beriman tanpa mempercayai salah satu dari enam rukun iman tersebut maka gugurlah keimanannya, sehingga mempercayai dan mengimani keenamnya bersifat wajib dan tidak bisa ditawar sedikit pun. Enam pilar iman itu antara lain adalah: 
1) iman kepada Allah Swt., 2) meyakini adanya rasul-rasul utusan Allah Swt., 
3) mengimani keberadaan malaikat-malaikat Allah Swt., 
4) meyakini dan mengamalkan ajaran-ajaran suci dalam kitab-kitab-Nya, 5) meyakini akan datangnya hari akhir dan 6) mempercayai qada dan qadar Allah Swt. Pokok pilar iman ini sebagaimana yang disebutkan dalam QS. an-Nisa/4: 136 yang artinya sebagai berikut: Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al-Qur'an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul- Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh. 2. Definisi Syu'abul Iman Menurut Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi dalam kitab Qamiuth-Thughyan 'ala Manzhumati Syu'abu al-Iman, iman yang terdiri dari enam pilar seperti tersebut di atas, memiliki beberapa bagian (unsur) dan perilaku yang dapat menambah amal manusia jika dilakukan semuanya, namun juga dapat mengurangi amal manusia apabila ditinggalkannya. Terdapat 77 cabang iman, di mana setiap cabang merupakan amalan atau perbuatan yang harus dilakukan oleh seseorang yang mengaku beriman (mukmin). Tujuh puluh tujuh cabang itulah yang disebut dengan syu'abul iman. Bilamana 77 amalan tersebut dilakukan seluruhnya, maka telah sempurnalah imannya, namun apabila ada yang ditinggalkan, maka berkuranglah kesempurnaan imannya. Jika setiap muslim mampu menghayati dan mengamalkan tiap-tiap cabang iman yang berjumlah 77 tersebut, maka niscaya ia akan merasakan nikmat dan lezatnya mengimplementasikan hakikat iman dalam kehidupan. 
3. Dalil Naqli tentang Syu'abul Iman Amalan-amalan yang merupakan cabang dari iman sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad Saw. yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Hurairah RA:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: الْإِيْمَانُ بِضْعُ وَسَبْعُوْنَ أَوْبِضْعُ وَسِتُوْنَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيْمَانِ . (رواه مسلم) Artinya: Dari Abu Hurairah ra.berkata, Rasulullah Saw. bersabda: Iman itu 77 (tujuh puluh tujuh) lebih cabangnya, yang paling utama adalah mengucapkan laa ilaha illallah, dan yang paling kurang adalah menyingkirkan apa yang akan menghalangi orang di jalan, dan malu itu salah satu dari cabang iman (HR. Muslim). Sabda Rasulullah Saw. yang lain terkait dengan cabang-cabang iman adalah sebagai berikut: Dari Anas r.a., dari Nabi Saw. beliau bersabda, tiga hal yang barang siapa ia memilikinya, maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah Swt. dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai (sesuatu) semata-mata karena Allah Swt. dan benci kepada kekufuran, sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka. (HR. Bukhari Muslim)

4. Macam-macam Syu'abul Iman Terdapat beberapa ahli hadis yang menulis risalah mengenai syu'abul iman atau cabang-cabang iman. Di antara para ahli hadis tersebut adalah: a. Imam Baihaqi RA yang menuliskan kitab Syu'bul Iman;
 b. Abu Abdilah Halimi RA dalam kitab Fawaidul Minhaj; 
c. Syeikh Abdul Jalil RA dalam kitab Syu'bul Iman; d. Imam Abu Hatim RA dalam kitab Washful Iman wa Syu'buhu Para ahli hadis ini menjelaskan dan merangkum 77 cabang keimanan tersebut menjadi 3 kategori atau golongan berdasarkan pada hadis Ibnu Majah berikut ini: عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : الْإِيْمَانُ مَعْرِفَةٌ بِالْقَلْبِ وَقَوْلُ بِالنِّسَانِ وَعَمَلُ بِاالْأَرْكَانِ . (رواه ابن ماجه) - Artinya: "Dari Ali bin Abi Thalibr.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda: iman adalah tambatan hati, ucapan lisan dan perwujudan perbuatan" (H.R. Ibnu Majah). Dengan kata lain, dimensi dari keimanan itu menyangkut tiga ranah yaitu:
 1. Ma'rifatun bil qalbi yaitu meyakini dengan hati
 2. Iqrarun bil lisan yaitu diucapkan dengan lisan
 3. 'Amalun bil arkan yaitu mengamalkannya dengan perbuatan anggota badan ± =二: Dari pengelompokan berdasarkan dimensi keimanan tersebut, maka syu'abul iman dibagi menjadi tiga bagian yang meliputi:
 a. Niat, akidah dan hati, 
b. Lisan/ ucapan 
c. seluruh anggota badan; Adapun pembagian 77 cabang keimanan berdasarkan pengelompokan tersebut adalah sebagai berikut: --- a) Cabang iman yang berkaitan dengan niat, aqidah dan hati Pembahasan tentang iman tentu tidak bisa lepas dari pembahasan tentang keyakinan. Orientasi tentang pembahasan iman ini dititikberatkan pada jiwa atau hati, karena pusat dari keyakinan seseorang adalah hati. Orang yang beriman yaitu orang yang di dalam hatinya, di setiap ucapannya dan pada segala tindakannya adalah sama, sehingga dapat diartikan bahwa orang yang beriman adalah orang yang jujur, memiliki prinsip, pandangan dan sikap hidup yang teguh.

Dengan demikian, yang dimaksudkan dengan iman yang sejati adalah iman dengan keyakinan penuh yang terpatri di dalam hati. Tidak ada perasaan ragu sedikit pun serta akan selalu mempengaruhi orientasi dan arah kehidupan, sikap hidup dan aktivitas dalam kehidupan.  Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Swt. dalam QS. Ibrahim/14: 27 berikut ini: يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيُوةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّلِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ ) 1 Artinya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. Berkaitan dengan hal tersebut, maka pengelompokan cabang-cabang iman yang termasuk dalam kelompok niat, aqidah dan hati terdiri dari tiga puluh hal, yaitu: 
1. Iman kepada Allah Swt.
 2. Iman kepada malaikat Allah Swt. 
3. Iman kepada kitab-kitab Allah Swt.
 4. Iman kepada rasul-rasul Allah Swt. 
5. Iman kepada takdir baik dan takdir buruk Allah Swt. 
6. Iman kepada hari akhir 
7. Iman kepada kebangkitan setelah kematian 
8. Iman bahwa manusia akan dikumpulkan di Yaumul Mahsyar setelah hari kebangkitan tinggal di neraka 
9. Iman bahwa orang mukmin akan tinggal di surga, dan orang kafir akan 
10. Mencintai Allah Swt. 
11. Mencintai dan membenci karena Allah Swt. 
12. Mencintai Rasulullah Saw. dan yang memuliakannya
 13. Ikhlas, tidak riya dan menjauhi sifat munafiq
14. Bertaubat, menyesal dan janji tidak akan mengulang suatu perbuatan dosa コ 
15. Takut kepada Allah Swt. 
16. Selalu mengharapkan rahmat Allah Swt. 
17. Tidak berputus asa dari rahmat Allah Swt.
 18. Syukur nikmat 
19. Menunaikan amanah 
20. Sabar
 21. Tawadlu dan menghormati yang lebih tua 
22. Kasih sayang termasuk mencintai anak-anak kecil
 23. Rida dengan takdir Allah Swt. 
24. Tawakkal
 25. Meninggalkan sifat takabur dan menyombongkan diri 
26. Tidak dengki dan iri hati 
27. Rasa Malu 
28. Tidak mudah marah 
29. Tidak menipu, tidak suudzan dan tidak merencanakan keburukan kepada siapapun 
30. Menanggalkan kecintaan kepada dunia, termasuk cinta harta dan jabatan b) Cabang Iman yang Berkaitan dengan Lisan Islam mengajarkan kepada setiap muslim untuk menjaga lisan, agar lisan senantiasa dipergunakan untuk sesuatu yang baik dan tidak bertentangan dengan kehendak Allah Swt. Tentang hal tersebut, Rasulullah Saw. bersabda: Lisan orang yang berakal, muncul dari balik hati nuraninya, sehingga ketika ia hendak berbicara, terlebih dahulu ia akan kembali ke hati nuraninya. Apabila (pembicaraannya) bermanfaat baginya, maka ia berbicara, dan apabila dapat berbahaya, maka ia menahan diri. Sementara hati orang bodoh terletak pada mulutnya dan ia berbicara apa saja sesuai yang ia kehendaki" (HR. Bukhari-Muslim).

Oleh karena itulah, pada syu'abul iman, berdasarkan pengelompokan para ahli hadis sebagaimana disebutkan sebelumnya, implementasi iman akan termanifestasikan dalam hal-hal yang konkrit dari ranah iqrarun bil lisan yang terdiri dari tujuh cabang keimanan sebagai berikut: 1. Membaca kalimat thayyibah (kalimat-kalimat yang baik) 2. Membaca kitab suci Al-Qur'an 3. Belajar dan menuntut ilmu 4. Mengajarkan ilmu kepada orang lain 5. Berdoa 6. Dzikir kepada Allah Swt. termasuk istighfar 7. Menghindari bacaan yang sia-sia c) Cabang Iman yang Berhubungan dengan Perbuatan dan Anggota Badan Iman adalah sesuatu yang abstrak dan sangat sulit untuk diukur. Iman bukan saja sekedar terucapnya pengakuan seseorang melalui lisan yang mengatakan bahwa ia beriman, karena bisa saja orang munafik memproklamirkan keimanannya, namun hatinya mengingkari apa yang ia katakan.Iman juga bukan sebatas pengetahuan tentang makna dan hakikat keimanan itu sendiri. Sebab tidak sedikit orang yang mampu memahami hakikat iman, namun ia mengingkarinya. Iman bukanlah sekedar amalan yang secara lahiriah menunjukkan kesan dan penampilan seolah-olah seseorang begitu beriman. Sebab orang-orang munafik pun tidak sedikit yang secara penampilan lahiriyah mempertontonkan rajin beribadah dan berbuat baik, sedangkan terdapat pertentangan dan kontradiksi dalam batin mereka, karena apa yang diperbuatnya tidak didasari oleh ketulusan untuk menggapai rida Allah Swt. Lain di mulut lain pula di hati. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. an-Nisa'/4: 142 sebagai berikut: إِنَّ الْمُنْفِقِينَ يُخْدِعُوْنَ اللهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلوةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا -
Artinya: Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. Sebaliknya, orang yang beriman akan selalu memandang bahwa ketetapan Allah Swt. adalah yang utama. Jika dihadapkan pada persoalan-persoalan riil dalam kehidupan, tanpa berat hati, berpura-pura dan pamrih untuk mendapatkan kesan baik di hadapan manusia, maka ia akan menentukan pilihan yang mendahulukan ketauhidan di dalamnya. Oleh karena itulah, dalam syu'abul iman, para ulama telah memilah sebanyak empat puluh cabang dari dimensi perbuatan yang mencerminkan konkritnya keimanan seseorang. Semakin baik kualitas iman seseorang, maka akan semakin baik pula perilaku dan perbuatan mereka dalam kehidupan sehari-hari, begitu pun sebaliknya. Dan ke empat puluh cabang iman dalam dimensi perbuatan tersebut, antara lain adalah: 
1. Bersuci atau thaharah termasuk di dalamnya kesucian badan, pakaian dan tempat tinggal 
2. Menegakkan shalat baik salat fardu, salat sunah maupun mengqadla salat
 3. Bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim, membayar zakat fitrah dan zakat mal, memuliakan tamu serta membebaskan budak. L 
4. Menjalankan puasa wajib dan sunah 
5. Melaksanakan haji bagi yang mampu 
6. Beri'tikaf di dalam masjid, termasuk di antaranya adalah mencari lailatul qadar 
7. Menjaga agama dan bersedia meninggalkan rumah untuk berhijrah beberapa waktu tertentu 
8. Menyempurnakan dan menunaikan nazar 
9. Menyempurnakan dan menunaikan sumpah
 10. Menyempurnakan dan menunaikan kafarat 
11. Menutup aurat ketika sedang salat maupun ketika tidak salat 
12. Melaksanakan kurban 
13. Mengurus perawatan jenazah 
14. Menunaikan dan membayar hutang 
15. Meluruskan muamalah dan menghindari riba
16. Menjadi saksi yang adil dan tidak menutupi kebenaran
17. Menikah untuk menghindarkan diri dari perbuatan keji dan haram
18. Menunaikan hak keluarga, dan sanak kerabat, serta hak hamba sahaya
19. Berbakti dan menunaikan hak orang tua
 20. Mendidik anak-anak dengan pola asuh dan pola didik yang baik
21. Menjalin silaturahmi 
22. Taat dan patuh kepada orang tua atau yang dituakan dalam agama
23. Menegakkan pemerintahan yang adil
24. Mendukung seseorang yang bergerak dalam kebenaran
 25. Menaati hakim (pemerintah) dengan catatan tidak melanggar syariat 
26. Memperbaiki hubungan muamalah dengan sesama 
27. Menolong orang lain dalam kebaikan 
28. Amar ma'ruf nahi munkar
 29. Menegakkan hukum Islam 
30. Berjihad mempertahankan wilayah perbatasan
 31. Menunaikan amanah termasuk mengeluarkan 1/5 harta rampasan perang
 32. Memberi dan membayar hutang
 33. Memberikan hak-hak tetangga dan memuliakannya
34. Mencari harta dengan cara yang halal
35. Menyedekahkan harta, termasuk juga menghindari sifat boros dan kikir
 36. Memberi dan menjawab salam
37. Mendoakan orang yang bersin
 38. Menghindari perbuatan yang merugikan dan menyusahkan orang lain
39. Menghindari permainan dan senda gurau 
40. Menyingkirkan benda-benda yang mengganggu di jalan.


5. Tanda-tanda Orang yang Beriman Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa iman adalah sesuatu yang abstrak dan tidak mudah untuk diukur. Pada umumnya nilai-nilai keimanan seseorang akan nampak dan mengejawantah dalam bentuk tingkah laku dan habituasi atau kebiasaan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga erat sekali kaitannya antara keimanan dan tingkah laku seseorang. Semakin baik kualitas imannya, maka akan semakin baik pula perilaku dan akhlaknya dalam kehidupan.padahal dia sedang berbuat dosa Adapun tanda-tanda orang yang beriman, di antaranya dijelaskan dalam sebagai berikut: 
1) Jika mendengar nama Allah Swt. disebut, maka bergetar hatinya, dan jika dibacakan ayat-ayat Al-Qur'an maka bergejolak hatinya untuk segera mengamalkannya. Sebagaimana disebutkan dalam QS. al-Anfal/8: 2
 berikut ini. 
Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah Swt. gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat- ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal.
2) Senantiasa bertawakal setelah bekerja keras dan berdoa kepada Allah Swt. Hal ini dijelaskan dalam QS. at-Taghabun/64: 13 (Dialah) Allah Swt, tidak ada Tuhan selain Dia. Dan hendaklah orang- orang mukmin bertawakkal kepada Allah Swt. 
3) Selalu tertib dalam menegakkan dan menjalankan salatnya. Seorang mukmin, seberapa pun sibuk dengan aktivitas dan urusan duniawinya, ia akan senantiasa memprioritaskan ibadah dan salat untuk menjaga kualitas imannya. Sebagaimana yang disebutkan dalam QS. al- Mukminun/23: 2 berikut ini: Sungguh beruntung orang-orang yang beriman (1) (yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya (2) 4) Menafkahkan sebagian rezeki dan hartanya di jalan Allah Swt. Seorang mukmin memiliki keyakinan bahwa harta yang dinafkahkan di jalan Allah Swt. merupakan wujud implementasi keimanan untuk pemerataan ekonomi, agar tidak terjadi kesenjangan antara aghniya dan dhuafa. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. al-Anfal/8: 3 sebagai berikut: (yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka. 
5) Menghindari perkataan yang tidak berguna. Seorang mukmin akan selalu mempertimbangkan sesuatu sebelum mengucapkannya. Apabila ucapannya bermanfaat, maka akan ia lanjutkan perkataannya, namun apabila mendatangkan madlarat maka ia akan menghindarinya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. QS. al- Mukminun/23: 3-5 berikut ini: Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna. 
6) Memelihara amanah dan menepati janji Seorang mukmin, akan senantiasa memegang amanah dan menepati janji yang telah dibuatnya serta tidak akan berkhianat kepada siapapun yang mempercayainya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam QS. al- Mukminun/23: 6 
berikut ini: Sesungguhnya Allah Swt. menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh Allah Swt. sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat
7) Berjihad di jalan Allah Swt. dengan jiwa dan harta yang dimiiki Makna jihad bagi seorang muslim dalam hal ini bukanlah jihad dan mengangkat senjata di medan pertempuran semata. Juga bukanlah jihad yang secara ekstrim menyatakan permusuhan kepada orang-orang atau golongan yang tidak sepaham dengannya. Tetapi jihad dalam hal ini adalah bersungguh-sungguh dalam menegakkan ajaran Allah Swt. baik dengan harta, benda maupun nyawa yang dimilikinya. Sebagai contoh jihadnya seorang pelajar adalah kesungguhannya menuntut ilmu. Jihadnya seorang guru adalah kesungguhannya mendidik siswanya, dan lain sebagainya. Hal tersebut sesuai dengan QS. at-Taubah/9: 41 yaitu: Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah Swt. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Demikianlah, tanda-tanda keimanan yang mengkristal menjadi perilaku dan akhlak seorang mukmin dalam kehidupan sehari-hari. Untuk bisa meraihnya dibutuhkan proses yang sangat panjang, terus-menerus dan tidak berkesudahan. Sehingga diperlukan dorongan dan motivasi sejak masih usia dini dan berlangsung sepanjang hayat. Hal tersebut perlu dilakukan agar hidup manusia lebih terarah dan selektif, sehingga seorang mukmin mampu memutuskan untuk mengambil nilai-nilai kehidupan yang patut diterima dan dengan tegas mampu menolak nilai-nilai kehidupan yang bertentangan dengan keimanannya.

BAB 3


1. *Menghindari Sifat Hidup Berfoya-Foya* .
Kebanyakan manusia memiliki cenderungan terhadap uang dan harta melimpah. Meskipun ada manusia yang tidak begitu tertarik dengan harta duniawi, mereka berlaku zuhud dengan lebih mengutamakan kehidupan akhirat. Jenis manusia seperti ini jumlahnya sangatlah kecil. Secara kodrat alamiah, manusia memang memiliki tabiat mencintai harta. Pada saat uang dan hartanya melimpah, perilakunya bisa berubah menjadi lebih konsumtif. Ia akan mudah membuat keputusan untuk membeli barang-barang mewah, meskipun barang tersebut kurang begitu penting bagi diri dan keluarganya. Sesungguhnya gaya hidup seperti itu salah, karena termasuk kategori menghamburkan harta, pemborosan dan berfoya-foya. Berfoya-foya merupakan pola pikir, sikap dan tindakan yang tidak seimbang dalam memperlakukan harta.. - Harta merupakan cobaan bagi pemiliknya, jika harta digunakan dengan baik maka harta bisa bermanfaat baginya, sebaliknya kalau harta dikelola secara salah maka akan mencelakakannya. Harta bisa menjadi tercela jika dijadikan tujuan utama oleh pemiliknya, dan dalam proses mencarinya tidak diniatkan untuk beribadah kepada Allah Swt. Islam melarang perilaku berlebih-lebihan atau melampaui batas (israf) dan boros (tabzir) dalam membelanjakan harta, keduanya termasuk perbuatan setan. Sebaliknya, Islam menganjurkan umatnya untuk hidup bersahaja, seimbang dan proporsional. Perhatikan Q.S al-Isra'/17: 26-27 berikut ini! وَاتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا * إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيْطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَنُ لِرَبِّهِ كَفَوْرًا * Artinya: "Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur- hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya". (Q.S al-Isra'/17: 26-27) Ayat di atas secara tegas mengatakan bahwa pemboros merupakan saudara setan. Berkaitan dengan sikap berlebih-lebihan atau melampaui batas (israf), Allah Swt. berfirman dalam Q.S al-Furqan/25: 67 berikut ini وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا -Artinya: "Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang- orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar". (Q.S al-Furqan/25: 67)

Kata tabzir diulang sebanyak tiga kali dalam Al-Qur'an, sedangkan kata israf diulang sebanyak dua puluh tiga kali dengan berbagai bentuknya. Ayat di atas menyatakan secara tegas larangan tabzir dan israf. Sikap tabzir dan israf memiliki kemiripan perngertian dan makna. Tabzir (boros) adalah perilaku membelanjakan harta tidak pada jalannya. Dengan kata lain, yang dimaksud pemborosan yaitu mengeluarkan harta tidak haq. Apabila seseorang mengeluarkan harta sangat banyak tetapi untuk hal-hal yang dibenarkan oleh Islam, maka bukan termasuk pemborosan. Sebaliknya, jika seseorang mengeluarkan harta meskipun sedikit, tetapi untuk hal-hal yang dilarang agama, maka ia termasuk pemboros. Allah Swt. sangat tidak menyukai seseorang yang mempergunakan harta secara berlebihan (israf) dan tanpa manfaat. Mereka menghamburkan harta sia-sia dan melupakan hak-hak orang lain atas hartanya. Seseorang disebut berperilaku israf apabila ia membelanjakan harta melewati batas kepatutan menurut ajaran Islam, dan tidak ada nilai manfaatnya untuk kepentingan dunia maupun akhirat. Sifat israf ini dipengaruhi oleh godaan uang dan harta pada seseorang yang lemah imannya. Contoh perilaku tabzir dan israf Berikut ini beberapa contoh perilaku tabzir dan israf daalam kehidupan sehari-hari: Contoh tabzir dan israf dalam makan dan minum: Seseorang mengambil banyak makanan dan minuman pada suatu acara tasyakuran. la takut tidak mendapat bagian, tanpa sama sekali tidak mempertimbangkan daya tampung perut. Akhirnya ia tidak sanggup menghabiskan makanan dan minuman tersebur. Contoh tabzir dan israf dalam berbicara: Berkata-kata yang tidak penting dan tidak perlu, baik secara langsung bertemu dengan lawan bicara ataupun melalui media elektronik, termasuk media sosial. Contoh lain misalnya, menggunakan kuota internet untuk searching dan chatting hal-hal yang tidak perlu. Contoh tabzir dan israf dalam penampilan: Memakai perhiasan emas di kedua tangan, leher, jari jemari, dan kaki pada I saat pertemuan warga. Berpakaian mahal, mewah lengkap dengan tas import dari luar negeri. -Selain di atas, masih banyak lagi contoh perilaku tabzir dan israf dalam kehidupan sehari-sehari.

 *Dampak negatif sifat hidup berfoya-foya* .
Banyak dampak negatif dari sikap hidup berfoya-foya, di antaranya: 
1) *Terlalu sibuk mengurusi kebahagiaan duniawi, melalaikan akhirat*.
 Dunia dianggap sebagai tempat persinggahan terakhir, padahal akhiratlah. tujuan akhir kehidupan manusia. Mereka sibuk mencari kebahagiaan dunia dengan menumpuk-numpuk harta hingga melupakan hidup di akhhirat
 2) *Menimbulkan sifat iri, dengki, dan pamer*. Membelanjakan secara berlebihan dan boros serta memamerkannya kepada orang lain akan memicu sifat iri, dengki dari orang lain. Sifat int akan memicu konflik di tengah masyarakat 
3) *Dapat memicu frustasi apabila hartanya habis*. Pengeluaran harta yang tidak terkontrol karena memperturutkan gengsi dan hawa nafsu akan mengakibatkan frustasi. Mereka sangat khawatir apabila hartanya habis dan tidak bisa lagi membeli sesuatu untuk memuaskan keinginannya. 4) *Berpotensi menimbulkan sifat kikir* Kekhawatiran berlebihan atas kekurangan harta membuat mereka bersifat kikir dan tidak mau berbagi dengan sesama. Karena takut jatuh miskin, akhirnya tidak ada kepedulian kepada fakir miskin yang benar-benar membutuhkan bantuan. *Cara menghindari sifat hidup berfoya-foya:* 
Agar terhindar dari sifat hidup berfoya-foya, lakukanlah hal-hal berikut ini 
1) *Membelanjakan harta sesuai dengan skala priorias kebutuhan* .
 Antara kebutuhan primer, sekunder dan tersier harus dibuat prioritas mana yang harus dipenuhi terlebih dahulu.
 2) *Membiasakan bersedekah dan membantu orang lain* .
Harta kita yang sebenarnya adalah harta yang disedekahkan kepada orang lain. Kebiasaan bersedekah akan membangkitkan rasa empati kepada orang lain. Lebih dari itu, akan mempererat hubungan antar sesama warga I masyarakat.
3) *Bergaya hidup sederhana*.
 Hidup apa adanya akan membuat hati dan pikiran tenteram. Ia akan merasa. bahagia apabila melihat orang lain hidup berkecukupan. Dan akan tergerak untuk membantu orang lain yang membutuhkan. 
4) *Selalu bersyukur* Menerima dengan senang hati atas semua karunia dari-Nya akan membuahkan ketenangan batin. Seseorang yang syukur bil qalb (syukur dalam hati) akan menyadari sepenuhnya bahwa segala nikmat itu adalah bentuk kasih sayang Allah Swt. Kemudian tumbuh keyakinan bahwa Allah Swt. telah menjamin rejeki semua mahkluk ciptaan-Nya. Tidak mungkin Allah Swt. akan membiarkan manusia hidup sengsara. Di samping syukur bil qalb, bersyukur juga dapat diungkapkan bil lisan, yakni dengan mengucapkan kalimat tahmid (alhamdulillah) dan berdoa kepada Allah Swt. dan syukur bil arkan, yakni dengan menggunakan nikmat sesuai peruntukkannya. 
5) *Bertindak selektif dan terencana*
 Merencanakan kehidupan di masa. datang akan membuat seseorang lebih selektif dalam memutuskan penggunaan harta. Membiasakan diri menyisihkan uang saku untuk ditabung merupakan sikap bijak. Lebih dari itu, sikap hemat dan bijak dalam menggunakan kuota. internet juga harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. 
6) *Bersikap rendah hati.* 
Harta merupakan titipan dari Allah Swt. agar dipergunakan di jalan-Nya. Sesungguhnya kehidupan dunia merupakan ladang untuk beramal demi kebahagiaan akhirat. Oleh karenanya, seseorang harus menjauhi perasaan paling kaya dan paling hebat. Kekayaan seseorang di muka bumi ini tidak ada artinya dibanding kebesaran dan kekuasaan Allah Swt. Sebagai pelajar seharusnya kalian menghindari perasaan paling pintar, paling kuat dan paling hebat di kelas atau sekolah. T Islam melarang umatnya bersifat berlebihan dan kikir. Antara sifat berlebihan dan kikir merupakan dua kutub yang berlawanan, namun keduanya merupakan sifat tercela yang harus dihindari. Orang kikir atau bakhil akan mementingkan diri sendiri, yang penting dirinya kecukupan, semua kebutuhan terpenuhi, dan ia tidak peduli atas derita yang dialami orang lain. Ia tidak akanmau mengorbankan hartanya, tenaganya, waktunya untuk kepentingan agama Islam. Kebakhilan akan merugikan diri sendiri, bahkan mendapat siksa di akhirat kelak. Perhatikan Q.S. Ali Imran/3: 180 berikut ini وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُوْنَ بِمَا أَتْهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَّهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ سَيُطَوَّقُوْنَ مَا يَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيمَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَوتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيرٌ Artinya: "Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada hari Kiamat. Milik Allah-lah warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi. Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Ali Imran/3: 180) Rasululullah Saw. bersabda dalam sebuah hadis berikut ini عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ قَالَ: اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاتَّقُوا الشُّحَ فَإِنَّ الشُّحَ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا تَحَارِمَهُمْ . (رواه مسلم) Artinya: "Dari Jabir bin Abdullah r.a., bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Jauhilah (takutlah) oleh kalian perbuatan zalim, karena kezaliman itu merupakan kegelapan pada hari kiamat. Dan Jauhilah oleh kalian sifat kikir, karena kikir telah mencelakakan umat sebelum kalian, yang mendorong mereka untuk menumpahkan darah dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan bagi mereka". (H.R. Muslim)


 2. *Menghindari Sifat Riya' dan Sum'ah*.
 Secara bahasa sumah berarti memperdengarkan. Secara istilah, sum'ah yaitu memberitahukan atau memperdengarkan amal ibadah yang dilakukan kepada orang lain agar dirinya mendapat pujian atau sanjungan. Sedangkan riya', secara bahasa berarti menampakkan atau memperlihatkan. Secara istilah, riya' yaitu melakukan ibadah dengan niat supaya mendapat pujian atau penghargaan dari orang lain. 
Riya' dan sumah merupakan sifat tercela yang menyebabkan amal ibadah menjadi sia-sia. Sifat riya'dan sumah bisa muncul pada diri seseorang pada saat melakukan ibadah ataupun setelah melakukannya. Rasulullah Saw. menegaskan bahwa riya' termasuk syirik khafi, yaitu syirik yang samar dan tersembunyi. Hal ini dikarenakan sifat riya' terkait dengan niat dalam hati, sedangkan isi hati manusia hanya diketahui oleh Allah Swt. Perhatikan firman Allah Swt. dalam. Q.S. al-Baqarah/2: 264 berikut ini يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَتِكُمْ بِالْمَنِ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانِ عَلَيْهِ تُرَابُ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَفِرِينَ ) Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir." (Q.S. al-Baqarah/2: 264) Dalam Musnad Ahmad terdapat sebuah hadis Nabi Saw. berikut ini: عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِنَّ أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشَّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا : يَارَسُوْلَ اللهِ وَمَا الشَّرْكُ الْأَصْغَرُ, قَالَ : الرِّيَاءُ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ : يَوْمَ تُجَازَى الْعِبَادُ بِأَعْمَالِهِمْ : اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاؤُنَ بِأَعْمَالِكُمْ فِي الدُّنْيَا فَانظُرُوا هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمْ جَزَاءٌ . (رواه احمد) Artinya: "Dari Mahmud bin Labid berkata, Rasulullah Saw. berkata: "Syirik kecil adalah suatu penyakit yang sangat berbahaya bagi kalian, lalu para sahabat bertanya, apakah syirik kecil itu ya Rasulullah? Jawab beliau: Riya', besok di hari kiamat, Allah menyuruh mereka mencari pahala amalnya, kepada siapa tujuan amal mereka itu, firman-Nya, 'carilah manusia yang waktu hidup di dunia, kamu beramal tujuannya hanya untuk dipuji atau disanjung oleh mereka, mintalah pahala kepada mereka itu". (H.R. Ahmad).
Riya' dan sumah merupakan penyakit hati yang merusak amal seseorang. Kedua sifat ini sulit terdeteksi, namun memiliki ciri-ciri yang dapat dilihat atau dirasakan. Seseorang yang bersifat riya' dan sumah memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 
1) Selalu menyebut dan mengungkit amal baik yang pernah dilakukan
 2) Beramal hanya sekadar ikut-ikutan bersama orang lain 
3) Malas atau enggan melakukan amal shaleh apabila tidak dilihat oleh orang lain 
4) Melakukan amal kebaikan apabila sedang berada di tengah khalayak ramai 
5) Amalannya selalu ingin dilihat dan didengar agar dipuji oleh orang lain
 6) Ekspresi amal berbeda karena sedang dilihat oleh orang lain atau tidak 
7) Tampak lebih rajin dan bersemangat dalam beramal saat mendapat sanjungan, sebaliknya semangatnya akan türun apabila mendapat cemoohan dari orang lain T Perbuatan riya' dan sumah akan berdampak negatif bagi pelakunya dan masyarakat secara umum. Dampak negatif tersebut antara lain:
 1) Muncul rasa tidak puas atas amal yang telah dikerjakan 
2) Muncul rasa gelisah saat melakukan amal kebaikan 3) Merusak nilai pahala dari suatu ibadah, bahkan bisa hilang sama sekali 
4) Mengurangi kepercayaan dan simpati dari orang lain
5) Menyesal apabila amalnya tidak diperhatikan oleh orang lain 
6) Menimbulkan sentimen pribadi dari orang lain karena adanya perasaan iri dan dengki 
Mengingat dampak negatif dari sifat riya' dan sumah di atas, maka sudah seharusnya umat Islam menghindari sifat tersebut. Memang bukan perkara mudah, sebab pada dasarnya manusia itu senang mendapat sanjungan dan pujian. Berikut ini beberapa cara menghindari sifat riya' dan sum'ah: 
1) Meluruskan niat Semua amal tergantung kepada niat. Apabila niatnya karena Allah Swt, maka akan diterima amal tersebut. Sebaliknya, apabila ada keinginan agar dipuji oleh orang lain, maka akan sia-sia. Oleh karenanya, sangat penting meluruskan niat sebelum melakukan amal ibadah. 
2) Menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah Swt. Kebanyakan manusia sering melupakan nikmat yang diterima dari Allah Swt. Mereka beranggapan bahwa harta dan kedudukan yang diperoleh merupakan hasil kerja kerasnya. Anggapan seperti inilah yang memicu sifat riya' dan sumah. Padahal, semua itu adalah amanah dan pemberian dari Allah Swt. 
3) Memohon pertolongan Allah Swt.
Manusia merupakan makhluk lemah. dan penuh keterbatasan. Tak mungkin ia dapat menyelesaikan semua masalah tanpa bantuan pihak lain. Posisinya sebagai makhluk yang lemah mengharuskannya berdoa memohon pertolongan dari-Nya, termasuk mohon kekuatan agar terhindar dari sifat riya' dan sumah
 4) Memperbanyak rasa syukur Pada hakikatnya setiap amal ibadah yang dilakukan oleh seseorang merupakan karunia dari Allah Swt. Maka sudah seharusnya kita bersyukur kepada-Nya. Dengan sering mengungkapkan syukur ini, kita tidak akan berharap mendapat pujian dari orang lain. Jangan sampai kita pamer ibadah hanya karena ingin memperoleh banyak teman, atau agar memperoleh jabatan tinggi. Ingatlah bahwa pujian dari manusia hanya pujian semu, bersifat sementara dan ada maksud tertentu. 15) Memperbanyak ingat kematian Kehidupan di dunia hanya sementara, sedangkan akhirat kekal abadi. Pujian dari manusia tidak punya arti apapun. Dan tidak mungkin menjadi sebab diperolehnya pahala dari Allah Swt. Justru pujian dari manusia berpotensi membuat kita lalai, dan menjerumuskan ke neraka.
6) Membiasakan hidup sederhana Meskipun memiliki uang, harta melimpah, pangkat dan kedudukan tinggi, haruslah tetap hidup sederhana. Kesederhanaan akan membuat seseorang menjadi lebih ikhlas dalam melakukan setiap amal ibadah. Adapun pujian dari orang lain tidak akan berpengaruh terhadap keikhlasannya. Benteng amal itu ada tiga, yaitu (1). Merasa bahwa hidayah itu datangnya dari Allah Swt., (2). Berniat meraih ridha Allah Swt. agar dapat mengalahkan hawa nafsu, (3). Berharap pahala dari Allah Swt. dengan menghilangkan riya' dan sumah. 
3. *Menghindari Sifat Takabbur* .
Takabur adalah sikap seseorang yang menunjukkan sifat sombong atau merasa lebih kuat, lebih hebat dibanding orang lain. Orang takabur selalu meremehkan dan merendahkan orang lain, tidak mau mengakui kehebatan dan keberhasilan orang lain, dan menolak kebenaran. Pendapat orang lain dianggap tidak ada gunanya, dan tak mau menerima saran dari orang lain. Sifat takabur termasuk penyakit hati yang sangat dibenci oleh Allah Swt., karena membuat seseorang ingin terus menerus menunjukkan kehebatan dirinya di hadapan orang lain. Allah Swt.berfirman dalam Q.S al-A'raf/7: 40 berikut ini وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِأَيْتِنَا حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمَّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ ) Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat." (Q.S al-A'raf/7: 40) Bahkan dalam Q.S al-A'raf/7: 36 secara tegas dinyatakan bahwa orang takabur akan dimasukkan ke neraka. وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِايْتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا أُولَئِكَ أَصْحَبُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَلِدُونَ ) Artinya: "Tetapi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.". (Q.S al-A'raf/7: 36)